News

“Ikan Sultan” Tak Laku di Ciayumajakuning, Papuyu Bernilai Tinggi di Kalimantan

CIREBON, (Penacirebon.id) – Fenomena unik terjadi pada ikan air tawar jenis Anabas testudineus atau yang dikenal luas sebagai ikan papuyu. Di sejumlah daerah luar Jawa, khususnya Kalimantan, ikan ini diburu dan dihargai tinggi hingga mencapai Rp30.000 sampai Rp150.000 per kilogram. Namun ironisnya, di wilayah Ciayumajakuning meliputi Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan ikan tersebut nyaris tak memiliki nilai jual.

Perbedaan mencolok ini menjadi sorotan, mengingat ikan papuyu justru dikenal sebagai komoditas “premium” di daerah asalnya. Di Kalimantan, ikan ini bahkan dijuluki sebagai “ikan sultan” karena harganya yang kerap setara atau melampaui harga daging sapi, serta kerap disajikan dalam berbagai momen spesial seperti acara keluarga hingga jamuan penting.

Apa Itu Papuyu dan Mengapa Mahal?

Papuyu merupakan ikan air tawar yang hidup di rawa, sungai kecil, hingga persawahan, terutama di wilayah Kalimantan dan Sumatra. Keunggulan utamanya terletak pada daya tahan hidup yang luar biasa. Ikan ini mampu bertahan di perairan dengan kadar oksigen rendah, bahkan bisa “berjalan” di daratan lembap untuk mencari habitat baru.

Kemampuan unik tersebut membuat ikan ini dikenal secara internasional sebagai climbing perch atau ikan pemanjat. Selain itu, tekstur dagingnya yang padat dan cita rasa gurih alami menjadikannya favorit masyarakat, khususnya di Kalimantan Selatan.

Salah satu olahan paling populer adalah papuyu goreng garing yang disajikan dengan sambal dan lalapan. Selain digoreng, ikan ini juga kerap dimasak dalam hidangan berkuah seperti pindang dan olahan santan khas daerah rawa.

Kenapa Tak Laku di Cirebon?

Berbanding terbalik dengan popularitasnya di luar Jawa, ikan papuyu di wilayah Ciayumajakuning justru kurang diminati pasar. Minimnya permintaan membuat ikan ini tidak memiliki harga jual yang signifikan, bahkan cenderung diabaikan sebagai komoditas konsumsi.

Perbedaan selera kuliner, kurangnya edukasi pasar, hingga belum berkembangnya rantai distribusi diduga menjadi faktor utama penyebab rendahnya nilai ekonomi ikan ini di Jawa Barat, khususnya Cirebon dan sekitarnya.

Mulai Langka, Harga Bisa Makin Melambung

Di sisi lain, tingginya permintaan di Kalimantan tidak diimbangi dengan ketersediaan yang stabil. Populasi papuyu di alam mulai menurun akibat perubahan habitat rawa, pencemaran lingkungan, serta penangkapan berlebih.

Kondisi ini membuat pasokan di pasar terbatas dan berdampak langsung pada lonjakan harga. Sejumlah pembudidaya pun mulai mencoba mengembangkan budidaya papuyu, meski diakui tidak mudah karena karakter ikan yang cukup sensitif terhadap lingkungan.

Bagi masyarakat Kalimantan, papuyu bukan sekadar lauk konsumsi. Ikan ini telah menjadi bagian dari identitas kuliner dan simbol kekayaan alam rawa yang khas.

Melihat potensi ekonominya yang tinggi, sejumlah pihak menilai papuyu sebenarnya berpeluang menjadi komoditas unggulan baru jika dikelola dengan baik di daerah lain, termasuk di Cirebon.

Namun tanpa upaya pelestarian habitat dan pengembangan budidaya yang serius, bukan tidak mungkin “ikan sultan” ini akan semakin langka dan harganya kian melambung tinggi di masa depan. *** (Heru)

Exit mobile version